Tiga Jalur Publikasi di Jurnal Terindeks Scopus
Publikasi artikel ilmiah pada jurnal terindeks Scopus telah
menjadi salah satu target akademisi untuk membangun reputasi, mengembangkan
karier, dan memperkuat portofolio penelitian. Secara de facto, terdapat
tiga jalur publikasi yang mewarnai praktik saat ini, yaitu jalur relasi, jalur
agensi, dan jalur kompetisi. Ketiga jalur tersebut memiliki karakteristik,
kebutuhan sumber daya, dan risiko yang berbeda. Akademisi perlu mengenali
realitas tersebut agar dapat menentukan strategi publikasi yang sesuai dengan
kondisi dan kemampuannya, sekaligus memahami potensi risiko dari setiap
pilihan.
1. Jalur Relasi
Jalur relasi mengandalkan hubungan personal dengan teman
dekat atau kenalan yang mengelola jurnal terindeks Scopus. Akademisi yang
mempertimbangkan jalur ini perlu menghitung seberapa banyak relasi yang
dimiliki dan apakah relasi tersebut mengelola jurnal yang benar-benar relevan
serta berpotensi membantu proses publikasi, baik melalui hubungan kelembagaan
maupun hubungan personal. Namun, memiliki teman yang mengelola jurnal tidak
secara otomatis menjamin respons ataupun penerimaan artikel. Teman yang dihubungi
mungkin memiliki banyak relasi dan harus menghadapi permintaan serupa dari
berbagai pihak, atau tidak memiliki kewenangan untuk menentukan keputusan
editorial.
2. Jalur Agensi
Jalur agensi mengandalkan jasa pihak ketiga untuk membantu
memenuhi kebutuhan publikasi dan umumnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Akademisi perlu memperhitungkan kesiapan anggaran untuk layanan pendukung
sekaligus kemungkinan adanya Article Processing Charge (APC), yaitu
biaya pemrosesan artikel yang dibebankan kepada penulis. Pertanyaan pentingnya
bukan hanya berapa banyak artikel yang dapat dihasilkan, melainkan juga
seberapa besar kesiapan finansial yang diperlukan untuk menanggung biaya agensi
dan APC. Penulis juga perlu berhati-hati dalam memilih jurnal yang ditawarkan
oleh agensi karena jurnal tersebut berpotensi menerapkan praktik predatory
publishing. Selain itu, pemilihan agensi harus dilakukan secara cermat
untuk menghindari pihak yang tidak bertanggung jawab.
3. Jalur Kompetisi
Jalur kompetisi mengandalkan kualitas artikel untuk bersaing
dalam proses seleksi ilmiah melalui pengiriman naskah ke jurnal yang dinilai
sesuai dengan target publikasi. Jalur ini memberikan kesempatan kepada
akademisi untuk membangun portofolio publikasi sebanyak-banyaknya berdasarkan
kapasitas penelitian dan kualitas karya, termasuk dengan membidik jurnal yang
menyediakan pilihan publikasi tanpa APC. Penulis harus memiliki kesiapan mental
karena risiko penolakan dapat lebih besar daripada peluang penerimaan, terutama
ketika bersaing dengan akademisi dari seluruh dunia. Persaingan tersebut
menuntut persiapan yang serius, baik dalam membangun argumentasi ilmiah maupun
memastikan ketepatan metodologi penelitian. Artikel dapat ditolak karena tidak
sesuai dengan ruang lingkup jurnal, kontribusinya belum cukup kuat, memiliki
kelemahan metodologis dan argumentatif, atau sejak pembacaan awal dinilai
kurang menarik minat editor.
Lantas, jalur mana yang paling tepat? Jawabannya bergantung
pada kondisi masing-masing akademisi. Jalur relasi membutuhkan hubungan
personal yang relevan, jalur agensi membutuhkan kesiapan finansial yang banyak,
sedangkan jalur kompetisi membutuhkan kemampuan ilmiah dan ketahanan menghadapi
proses seleksi. Hal terpenting adalah memahami konsekuensi dari setiap pilihan
sebelum menentukan strategi publikasi.
Akademisi yang memilih jalur kompetisi perlu menyadari bahwa
publikasi bukan sekadar mengirimkan artikel, melainkan proses menguji kualitas
karya melalui persaingan ilmiah. Proses tersebut dapat diibaratkan seperti mengikuti
perlombaan yang diikuti banyak peserta, sementara hanya sebagian kecil yang
berhasil mencapai kategori juara. Jumlah naskah yang ditolak dapat jauh lebih
besar daripada jumlah naskah yang diterima, bergantung pada tingkat
selektivitas jurnal yang dituju. Karena itu, akademisi harus siap bersaing,
siap menerima kritik, dan siap ditolak berkali-kali. Penolakan bukan akhir
perjalanan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki kualitas penelitian
sekaligus memperkuat mental dalam menghadapi persaingan ilmiah. (AI Hamzani)