Tips Menulis Artikel Ilmiah Bidang Hukum dengan Bantuan AI
Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dapat mempercepat
penulisan artikel ilmiah bidang hukum. Namun demikian, jangan menggunakan satu AI untuk
menulis seluruh artikel. Setiap AI memiliki fungsi yang berbeda dan sebaiknya
digunakan sesuai dengan tahapan pekerjaan yang relevan. Berdasakan pengalaman, untuk menghasilkan artikel yang powerfull
dan siap submit, setidaknya dibutuhkan minimal dua jenis AI, yaitu:
1.
AI LLM (Large
Language Model) atau Generative AI, seperti ChatGPT, Claude, Gemini,
atau yang sejenis.
2.
AI RAG
(Retrieval-Augmented Generation) atau Insight Engine, seperti Scite AI, Scispace
AI, Paperguide AI, Jenni AI, atau yang sejenis.
Berikut alur kerja atau workflow yang dapat
digunakan.
1. Tentukan ide, tema, dan topik
Mulailah dari ide atau persoalan hukum yang ingin
diteliti dan pilih topik yang benar-benar Anda kuasai. Gunakan AI LLM: misalnya
ChatGPT atau Claude, untuk mendiskusikan ide, merumuskan masalah penelitian,
pertanyaan penelitian, teori, metode, kontribusi, hingga menyusun outline
artikel. Outline harus benar-benar matang pada tahap ini. Bangun outline
melalui beberapa kali interaksi dengan AI sampai argumentasi dan strukturnya
benar-benar jelas dan matang.
Jangan meminta AI LLM menulis artikel. Selain bukan
alat yang tepat untuk membangun keseluruhan artikel ilmiah, publisher akademik global seperti Elsevier, Springer, Taylor & Francis, Wiley, Sage, Brill, Emerald dan yang setingkat, umumnya memiliki ketentuan yang membatasi penggunaan AI LLM dalam penulisan
substansi artikel. Penggunaannya lebih diarahkan pada hal-hal seperti perbaikan
alur, perbaikan kalimat dan paragraf, serta penerjemahan.
Catatan:
Jangan terhipnotis oleh kemampuan AI LLM yang dapat
menghasilkan paragraf dengan sangat cepat. Gunakan AI sesuai fungsi dan tahap
pekerjaannya.
2. Petakan kebutuhan setiap bagian outline
Setelah outline selesai, tentukan sumber yang
diperlukan untuk mengembangkan setiap bagiannya. Ada bagian yang membutuhkan data
primer (kalau penelitian lapangan), yang harus dicari dan diperoleh secara
langsung; peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan, dan sumber hukum primer lainnya yang dapat
dicari melalui website resmi atau sumber publik yang kredibel; serta literatur
ilmiah, terutama referensi seminal dan artikel-artikel terbarukan (pada tahap ini kebutuhan sumber data sesuai dengan objek, jenis, dan pendekatan yang digunakan).
Sumber hukum primer seperti peraturan perundang-undangan dan putusan,
pastikan Anda mengetahui di mana dokumen tersebut dapat diakses. Hampir semua
negara menyediakan akses publik terhadap peraturan perundang-undangan melalui website pemerintah
atau database hukum tertentu. AI LLM dapat membantu menemukan website dan
dokumen yang tepat. AI lain, seperti Google AI atau Perplexity AI, juga
dapat membantu pencarian tersebut. Validasi tetap harus dilakukan secara
manual dengan membuka dan memeriksa website serta dokumen aslinya. Pastikan simpan versi pdfnya jika dokumen dapat diunduh.
Demikian pula dengan referensi seminal, yaitu
referensi yang menjadi fondasi atau “pisau analisis” dalam artikel. Referensi
seminal sering kali harus dicari sampai benar-benar ditemukan dan
terverifikasi. Pastikan identitas bibliografisnya benar, termasuk ISBN atau DOI
jika tersedia. Jika anda memiliki versi cetak dan tidak tersedia versi digitalnya, dapat diinput secara manual ke Zotero dan AI RAG.
Catatan:
Referensi seminal juga dapat dimasukkan ke AI RAG
untuk digunakan sebagai sumber sitasi bersama referensi terbarukan.
3. Kembangkan paragraf bersitasi dengan AI RAG
Outline yang akan dikembangkan menjadi paragraf
bersitasi dari referensi terbarukan maupun referensi seminal dapat dibawa ke salah
satu AI RAG, baik Scite AI, Scispace AI, Paperguide AI, maupun Jenni AI.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Cukup pilih salah
satu sesuai kebutuhan dan workflow Anda.
AI RAG berbeda dari LLM. AI RAG dirancang untuk
membantu pekerjaan penelitian berbasis literatur dengan mengambil informasi
dari basis data, indeks, atau koleksi publikasi ilmiah yang tersedia. Karena
itu, AI RAG lebih tepat digunakan untuk menemukan penelitian yang relevan,
menelusuri hubungan sitasi, dan membantu mengembangkan paragraf yang didukung
oleh referensi valid.
Catatan:
Outline yang dibawa ke AI RAG sebaiknya
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris karena hasil AI dapat lebih optimal
dengan prompt berbahasa Inggris.
4. Bawa ke Claude untuk penyuntingan makro
Setelah bagian-bagian artikel dikembangkan menjadi paragraf bersitasi, gunakan Claude untuk melakukan macro editing. Fokusnya pada struktur keseluruhan, alur argumentasi, hubungan antarbagian, konsistensi teori dan analisis, serta koherensi artikel. Pada tahap ini, Claude juga dapat digunakan untuk mengintegrasikan data lapangan dan sumber hukum primer, seperti peraturan perundang-undangan, secara presisi. Lakukan pula audit terhadap sitasi dan referensi, integrasikan referensi seminal, serta sempurnakan metode penelitian agar relevan dan implementatif.
5. Bawa ke ChatGPT untuk penyuntingan mikro
Setelah struktur dan argumentasi diperbaiki, gunakan
ChatGPT untuk melakukan micro editing, sekaligus melakukan editing secara
manual. Fokusnya antara lain memperbaiki kalimat, memperjelas paragraf,
memperbaiki tata bahasa, memilih istilah yang tepat, menghilangkan pengulangan,
dan meningkatkan keterbacaan. Pada tahap ini seringkali dilakukan editing seperti
perbaikan dan penambahan kalimat secara manual. Karena itu, minta ChatGPT merapikan
kembali sunan kalimatnya. Pada tahap ini, artikel benar-benar akan sesuai dengan style Anda.
Catatan:
Claude dan ChatGPT tidak perlu dibandingkan mana
yang lebih baik. Keduanya dapat digunakan secara komplementer: Claude untuk
macro editing dan ChatGPT untuk micro editing.
6. Validasi sitasi dengan Zotero dan pemeriksaan
manual
Masukkan sitasi dan referensi ke Zotero untuk membantu mengelola bibliografi. Kemudian lakukan validasi secara manual. Periksa kembali nama penulis, judul, tahun, jurnal atau penerbit, volume, nomor, halaman, DOI, URL, serta kesesuaian antara sitasi dengan sumber aslinya. Setelah itu, sesuaikan gaya sitasi dengan pedoman jurnal target. Untuk jurnal hukum, terutama yang diterbitkan oleh publisher internasional, sering diperlukan penyesuaian manual meskipun sudah menggunakan Zotero.
Catatan:
Hindari mengetik referensi satu per satu ke Zotero.
Jika tersedia, gunakan RIS, BibTeX, DOI, atau ISBN online. Pengecualian dapat
dilakukan untuk buku fisik yang Anda miliki dan tidak tersedia metadata
digitalnya.
7. Terjemahkan dan tentukan jurnal target
Setelah substansi dan referensi final, terjemahkan
artikel ke dalam bahasa Inggris menggunakan Claude atau ChatGPT. Pertahankan
terminologi dan makna hukum; jangan sekadar menerjemahkan kata demi kata.
Selanjutnya, gunakan Claude atau ChatGPT untuk membantu menemukan jurnal
yang paling relevan, misalnya dengan menyusun 10 jurnal berdasarkan tingkat
relevansinya. Setelah mendapatkan kandidat jurnal, lakukan validasi melalui
website jurnal: scope, author guidelines, jenis artikel, gaya sitasi, dan
ketentuan lainnya. Sesuaikan kembali judul, abstrak, dan manuskrip dengan
jurnal yang dipilih.
Catatan:
Untuk submission awal, jurnal publisher global
umumnya tidak mensyaratkan template manuskrip. Format akhir dapat disesuaikan
setelah artikel diterima pada tahap produksi. Untuk manuskrip awal, gunakan
Times New Roman 12, spasi ganda dari judul hingga daftar referensi, dan rata
kanan-kiri. Pisahkan dokumen utama tanpa nama penulis dari dokumen yang memuat
nama dan afiliasi penulis. Siapkan cover letter dan seluruh dokumen
administrasi yang dipersyaratkan. Untuk penelitian lapangan yang melibatkan
manusia atau informan, siapkan sejak awal ethical clearance serta informed
consent atau persetujuan informan, karena dokumen tersebut dapat menjadi
persyaratan submission pada jurnal publisher global.
8. Final check dan submit
Lakukan pemeriksaan terakhir terhadap seluruh
dokumen, kemudian lakukan submit. Jangan lupa melakukan registrasi terlebih
dahulu pada jurnal yang dituju dan memastikan seluruh persyaratan administrasi
telah terpenuhi.
Setelah semua valid, barulah artikel siap disubmit.
Pada akhirnya, jangan bertanya “AI mana yang bisa menulis artikel?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Pada tahap mana membutuhkan AI tertentu?” AI dapat mempercepat proses penelitian dan penulisan, tetapi ide, keputusan akademik, data, validasi sumber, argumentasi, dan tanggung jawab ilmiah tetap berada pada penulis.
Barangkali langkah-langkah ini terlihat panjang dan
bertele-tele. Bisa jadi ada bagian yang dapat dipangkas agar prosesnya lebih
efisien. Semuanya bergantung pada kemampuan kita dalam menggunakan dan
mengeksplorasi AI. Namun, ada satu rumus yang saya buat bedasarkan pengalamanm: “Semakin
kita tidak memahami isi artikel yang ditulis, semakin cepat AI membantu kita
menyelesaikannya—dan semakin cepat pula artikel itu direject.” (AI
Hamzani).